Skip to main content

ID · Authority / Methodology

Metodologi Market Intelligence D2 untuk Indonesia

Cara D2 mengklasifikasikan sumber, memverifikasi claim, membangun benchmark, menyimpan snapshot, menangani limitation, dan menentukan kesiapan publish untuk market Indonesia.

id-IDMethodologyDiverifikasi 29 Sep 2026

Jawaban singkat

D2 mempublikasikan market content Indonesia dengan contract yang memisahkan verified fact, observed fact, derived metric, inference, limitation, dan editorial guidance; claim material harus dapat ditelusuri ke evidence atau data snapshot serta memiliki scope dan freshness yang jelas.

Diterbitkan oleh

D2 Commerce Team

Metodologi pasar

Indonesia market methodology

Verifikasi terakhir

29 Sep 2026

Metodologi Market Intelligence D2 untuk Indonesia

Halaman ini menjelaskan bagaimana D2 mengumpulkan, mengklasifikasikan, memverifikasi, menghitung, memperbarui, dan mempublikasikan informasi di cluster /markets/id. Tujuannya adalah agar pembaca, mesin pencari, dan answer engine dapat membedakan fakta resmi, observasi pasar, perhitungan turunan, inference, limitation, dan guidance editorial.

1. Hierarki sumber

D2 menggunakan empat lapisan sumber.

Sumber resmi

Dokumentasi atau publikasi langsung dari platform, regulator, atau organisasi yang menjadi primary source untuk sebuah aturan, fitur, atau definisi.

Data first-party D2

Data yang berasal dari operasi, riset, atau sistem D2 sendiri dan dapat ditelusuri ke definisi metric, periode, sample, dan workflow yang jelas.

Observed market intelligence

Data eksternal yang diamati D2 untuk market tertentu. Public copy menyebut metodologi dan keterbatasannya; identitas provider internal tidak harus dipublikasikan jika provider bukan bagian dari claim publik.

Third-party industry research

Riset pihak ketiga yang digunakan sebagai context, bukan pengganti primary source ketika primary source tersedia.

2. Taxonomy claim

Setiap claim material dapat diklasifikasikan sebagai:

  • verified_fact — fakta yang didukung sumber yang sesuai;
  • observed_fact — hasil observasi pada sample, periode, atau snapshot tertentu;
  • derived_metric — angka yang dihitung dari data sumber menggunakan rumus yang dapat dijelaskan;
  • inference — kesimpulan analitis yang dibedakan dari fakta;
  • limitation — batasan sample, data, window, atau interpretation;
  • editorial_guidance — rekomendasi operasional D2 berdasarkan evidence dan experience yang tersedia.

D2 tidak mengubah inference menjadi fakta dan tidak mengubah observed sample menjadi klaim seluruh market.

3. Definisi metric

Metric harus membawa definisi dan unit yang cukup untuk direproduksi.

GMV

Nilai commerce yang dilaporkan atau diamati untuk scope dan attribution model tertentu. GMV bukan creator income, profit brand, atau creator fee.

Rolling 28-day GMV

GMV yang diamati pada rolling window 28 hari. Jika template internal memakai nama metric 30d tetapi source menyediakan 28 hari, public copy wajib menyebut 28-day proxy.

Creator count

Jumlah creator yang memenuhi filter source pada snapshot tertentu. Creator count category tidak otomatis sama dengan jumlah unique creator seluruh Indonesia.

Selling creator

Creator yang terklasifikasi melakukan aktivitas selling dalam category atau source scope tertentu.

Affiliate commission

Configured commission yang diamati untuk sample yang didefinisikan. Nilai sample tidak boleh dipublikasikan sebagai universal platform commission.

Median dan percentile

Median, P25, dan P75 hanya berlaku untuk defined sample yang disebutkan pada page atau dataset terkait.

4. Sampling

Setiap benchmark wajib menjelaskan sampling frame.

D2 membedakan:

  • random sample;
  • commerce-weighted sample;
  • top-N ranked sample;
  • category snapshot;
  • official full-population metric bila source benar-benar menyediakan full population.

Jika sample diurutkan berdasarkan GMV, hasilnya tidak boleh diposisikan sebagai average creator Indonesia.

5. Claim → evidence → snapshot

Framework D2 menyimpan hubungan eksplisit:

claim → evidence asset atau data snapshot → methodology → verification time → limitation

Claim numerik tidak dianggap siap publish hanya karena angkanya tersedia. Claim harus memiliki scope, periode, unit, dan evidence yang cocok.

6. Freshness

Setiap claim dapat memiliki freshness window.

Contoh policy framework:

  • fast-moving creator/category benchmark: review sekitar 30 hari;
  • platform rules dan program terms: review ketika official source berubah atau pada scheduled verification;
  • evergreen operational guidance: review period lebih panjang, tetapi tetap memiliki last verified date.

Freshness bukan berarti angka harus berubah setiap cycle. Artinya D2 memeriksa apakah claim masih layak dipublikasikan.

7. Publication contract

Page market yang indexable harus memenuhi minimum contract:

  1. market dan intent jelas;
  2. localized copy cukup native untuk market;
  3. canonical dan indexability benar;
  4. direct answer tersedia bila intent cocok;
  5. entity set konsisten;
  6. claim material memiliki evidence atau dinyatakan sebagai guidance/inference;
  7. numeric claim memiliki snapshot atau sumber yang dapat diaudit;
  8. limitation ditampilkan bila sample atau interpretation memerlukannya;
  9. internal link hanya mengarah ke destination yang layak;
  10. last verified date tersedia untuk content yang bergantung pada data atau rules.

8. Koreksi dan perubahan data

Jika source berubah, D2 dapat:

  • memperbarui snapshot tanpa menghapus historical methodology;
  • mengganti claim dan memperbarui last verified date;
  • menambahkan limitation;
  • menurunkan page menjadi noindex jika evidence tidak lagi cukup;
  • mempertahankan page tetapi menghapus angka yang tidak dapat diverifikasi.

Tujuan utamanya adalah mempertahankan traceability, bukan mempertahankan claim lama demi ranking.

9. SEO, GEO, dan AEO

Website adalah source of truth untuk content, entity, evidence, claim, methodology, schema, dan readiness.

D2 Search OS adalah source of truth untuk observasi eksternal seperti ranking, Search Console, analytics, SERP, AI visibility, citation sources, dan competitor landscape.

Dengan pemisahan ini, performance data tidak dicampur ke CMS hanya untuk membuat page terlihat lebih kaya.

10. Provider visibility

Beberapa market-intelligence provider digunakan sebagai infrastructure internal. Bila public attribution tidak diizinkan atau tidak diperlukan, D2 mempublikasikan metode, sample, window, metric, dan limitation, bukan nama provider.

Ini tidak mengubah kewajiban internal untuk menyimpan source reference agar data tetap dapat diaudit.

11. Hubungan dengan metodologi D2 global

Framework market ini mengikuti prinsip evidence-led D2 yang lebih luas. Lihat metodologi D2 untuk prinsip publishing dan measurement di seluruh website.

FAQ

Mengapa D2 memakai snapshot?

Karena creator commerce berubah cepat. Snapshot membuat periode observasi dan waktu verifikasi dapat dibedakan dari kondisi market hari ini.

Apakah benchmark D2 mewakili seluruh creator Indonesia?

Tidak selalu. Setiap benchmark harus dibaca sesuai sampling frame yang dijelaskan. Top-N atau commerce-weighted sample tidak boleh diperlakukan sebagai random population sample.

Mengapa provider market intelligence kadang tidak disebut?

D2 dapat memakai provider sebagai infrastructure internal sambil mempublikasikan methodology, sample, period, metric, dan limitation yang relevan. Source reference tetap disimpan secara internal.

Apa yang terjadi jika data tidak lagi dapat diverifikasi?

D2 dapat memperbarui, menghapus angka, menambahkan limitation, atau mengubah page menjadi noindex sampai evidence cukup kembali.

Apakah ranking dan Search Console disimpan di market CMS?

Tidak. Website menyimpan content/evidence/readiness; D2 Search OS menangani external measurement seperti rankings, GSC, analytics, SERP, AI visibility, dan citation tracking.

Kembali ke hub creator commerce Indonesia.

Sumber & bukti

D2 Group Evidence & Measurement Methodology

D2 Group

D2 global methodology defining source hierarchy, evidence boundaries, measurement rules, claim strength, and publication discipline.

Buka sumber →

Pertanyaan umum

Mengapa D2 memakai snapshot?

Karena creator commerce berubah cepat. Snapshot membuat periode observasi dan waktu verifikasi dapat dibedakan dari kondisi market hari ini.

Apakah benchmark D2 mewakili seluruh creator Indonesia?

Tidak selalu. Setiap benchmark harus dibaca sesuai sampling frame yang dijelaskan. Top-N atau commerce-weighted sample tidak boleh diperlakukan sebagai random population sample.

Mengapa provider market intelligence kadang tidak disebut?

D2 dapat memakai provider sebagai infrastructure internal sambil mempublikasikan methodology, sample, period, metric, dan limitation yang relevan. Source reference tetap disimpan secara internal.

Apa yang terjadi jika data tidak lagi dapat diverifikasi?

D2 dapat memperbarui, menghapus angka, menambahkan limitation, atau mengubah page menjadi noindex sampai evidence cukup kembali.

Apakah ranking dan Search Console disimpan di market CMS?

Tidak. Website menyimpan content/evidence/readiness; D2 Search OS menangani external measurement seperti rankings, GSC, analytics, SERP, AI visibility, dan citation tracking.